Forum Nyai Pesantren: Aksi 22 Mei Ditumpangi Agenda Ganti Sistem Khilafah

oleh -131 views

Lumajang – Forum Ibu Nyai Pengasuh Pondok Pesantren wilayah Tapal Kuda, Jawa Timur, mengajak para santri dan masyarakat agar tidak terprovokasi oleh ajakan aksi menolak hasil Pemilu 2019. Apalagi gerakan people power yang mengarah pada tindakan makar pada negara.

“Sebagai warga negara, kita wajib menerima apapun hasil Pemilu. Ini perintah agama, sebab Pemilu sudah sesuai dengan Undang-Undang,” kata Koordinator Nyai Pesantren se Tapal Kuda, Nyai Hj Djuwariyah Fawaid, dari Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo.

Nyai Djuwariyah menyampaikan hal itu di acara deklarasi dan doa bersama puluhan para nyai pengasuh pesantren se Tapak Kuda, di Pondok Pesantren Bustanul Ulum, Desa Krai, Kecamatan Yosowilanggun, Kabupaten Lumajang, Jawa TImur, Senin (20/5/2019).

Dalam deklarasi tersebut, sedikitnya ada enam poin yang dibacakan oleh Ketua Persatuan Nyai Pondok Pesantren se-Tapal Kuda. Salah satunya akan berperan aktif dalam mewujudkan stabilitas keamanan dan tidak ikut serta termakan fitnah yang melanggar konstitusi.

Nyai Djuwairiyah mengaku sangat prihatin dengan aksi 22 Mei dan kondisi bangsa yang dirongrong oleh kepentingan kelompok atas nama kecurangan dalam Pemilu. Mereka pun memprovokasi masyarakat untuk tidak pecaya pada pemerintahan Presiden Joko Widodo.

“Apapun aksinya, entah itu people power, kami tidak setuju dan tidak mendukungnya,” tegas Nyai Djuwairiyah.

Sementara itu, Nyai Fitriyah dari Pasuruan menegaskan, agenda mereka yang mengajak aksi 22 Mei dengan membawa agama adalah ingin menjadikan Indonesia sebagai negara Khilafah. Sehingga politik Pilpres ditumpangi, hingga hasil rekapitulasi suara KPU akan dijadikan gerakan.

“Mereka ingin menciptakan negara Indonesia tidak aman. Jika itu terjadi, maka akan rusak di mata dunia,” tandasnya. “NKRI ada campur ulama, kiai dari pendiri jamiyah Nahdlatul Ulama,” sambungnya. (rus/onk)