GPLHK Soroti Fenomena Sumenep-Madura

oleh

Sumenep, Andonesia.com- Garda Penggiat Lingkungan Hidup dan Kebudayaan ( GPLHK ) Madura melatih pemuda tanggap fenomena lingkungan, kehidupan dan kebudayaan. Sabtu, 01 Desember 2018.

GPLHK Madura berkerjasama dengan Dapur Kultur Suemenep untuk mendiskusikan agar masyarakat, khususnya pemuda sadar tanggap terhadap fenomena yang tengah terjadi di sekitar baik nasional ataupun kedaerahan.

Di tengah gencar-gencarnya wanacan Politik dan krisis keagamaan yang di alami oleh Negara Indonesia, GPLHK tetap konsisten menempatkan dirinya untuk terus mengawal pembangunan bangsa yang meliputi Lingkungan dan Kebudayaan sebagai nafas vital pembangunan bangsa.

Sebagaimana disampaikan oleh Salamet, pembina GPLHK bahwa dalam pertikaian Politik kekuasaan berbau keagamaan seakan seluruh lapisan masyarakat tengah tergiring ke dalam permasalahan tersebut, dari yang Awam sampai kaum elit.

” Sekarang masyarakat tengah terhipnotis ke dalam permainan politik berbau Agama” Ungkapnya

Beliau menegaskan bahwa penting bagi setiap profesi menempatkan diri pada tempatnya, jangan sampai lalai terhadapa fenomena lingkungan dan kebudayaan sebagai pemabangun bangsa.
“Karena politik kekuasaan, jangan sampai kita lalai terhadapa pekerjaan kita, terhadap profesi kita dalam menciptakan pembangunan bangsa. Pelajar belajar, penggiat bergiat, petani bertani, guru mengajar, jangan sampai salah tempat”, Tegasnya.

Sedangkan Fawait, Ketau Umum GPLHK menyinggung bagaiama fenomena Lingkungan dan kebudayaan di sumenep yang perlu perhatian husus untuk kemajuan dan perbaikan Sumenep.

“Ada banyak fenomena di sumenep yang perlu kita kritisi dan kita angkat kepermukaan baik dalam kebudayaan atau lingkungan”, Ucapnya.

Pemuda Pasca Sarjana ini juga berharap terhadap para pemuda Sumenep, sebagai pewaris kebudayaan, mereka tidak boleh lalai terhadap kondisi lingkungan dan kebudayaan Sumenep, khususnya madura. Mulai dari hilangnya nilai luhur falsafah madura, mengalih fungsikan lahan pertanian, pengacuhan terhadap Sendi-sendi kebudayaan dan penataan daerah baik kota atau desa.

“Kita tidak boleh acuh terhdap leingkungan kita, jangan sampai kita hanya diam ketika di sumenep ada perusakan lingkungan atas alasan apapun, semisal banjir kemaren. Kita juga harus terus merawat kebudayaan kita sebagai jati diri bangsa”, Tegasnya.

Acara dilaksanakan di Ruang Baca Dapur Kultur, Kebun Agung Suemenep, Madura Jawa Timur dengan peserta dari berbagai profesi, dan jenjang pendidikan. ( Ari )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *