Ini Jurus Pakde Karwo Hadapi Dolar Tembus 14.800

oleh -346 views
Gubernur Jawa Timur Soekarwo

Surabaya, andonesia.com – Perekonomian Indonesia secara umum dan Jawa Timur semakin terdesak paska The Fed AS kembali menaikkan suku bunga hingga kurs rupiah terhadap dollar AS menembus angka 14.800 per tanggal 31 Agustus 2018.

Pengaruh tersebut bukan hanya dialami Indonesia tetapi juga negara-negara lain. Bahkan negeri tetangga Malaysia yang bermata uang ringgit justru tertekan lebih dalam. Sedangkan kurs rupiah terhadap Yen relatif bertahan dikisaran 125 hingga 128 dan kurs rupiah terhadap rupee India justru menguat.

Kendati demikian, jika ongkos produksi dihitung menggunakan dollar, otomatis jelas mengganggu perekonomian Indonesia pada umumnya dan Jatim pada khususnya. Untuk mengatasi hal tersebut, Gubernur Jatim Soekarwo mengaku tidak terlalu risau karena sudah memiliki strategi menjaga stabilitas ekonomi Jatim.

“Jatim sejak awal memilih basis indutsri pada sektor agro industri dan agro bisnis karena bahan baku bisa dipenuhi dari dalam negeri sehingga stabilitas ekonomi Jatim paling stabil di republik ini,” ujar Soekarwo saat dikonfirmasi di kantor DPRD Jatim, Minggu (2/9/2018).

Berdasarkan data yang ada, lanjut Pakde Karwo sapaan akrab Soekarwo industri di Jatim yang berbahan baku agro mencapai 57 persen. Sedangkan sisanya masih import, seperti industri pupuk import florida dari Laos. Namun jika pada saatnya produk dolomit mulai dari Gresik hingga Tuban bisa mencukupi tentu tak perlu import lagi.

Bahkan pemerintah juga berupaya mengubah pemenuhan oil dan gas dengan minyak kelapa sawit. “Kenaikan ongkos produksi akibat bahan baku naik mengakibatkan harga menjadi mahal sehingga produk menjadi tidak kompetitif,” dalih Pakde Karwo.

Pertimbangan lainnya, APBN mematok dollar dikisaran 13.500 padahal sekarang sudah menyentuh kisaran 14.800 sehingga mata uang rupiah menjadi tidak kompetitif dengan luar negeri.

“Permasalahan kita hadapi itu, 58 persen kita adalah portofolio sehingga sangat mengganggu rupiah. Belum lagi hutang jangka pendek yang jatuh tempo,” ungkapnya.

Di sisi lain, pada saat bersamaan pasar Indonesia yakni Cina telah mengubah strategi pembangunan dengan mengurangi investasi dan memperbesar konsumsi dalam negeri sehingga pasar Jatim juga pada posisi turun. “Makanya captive market Jatim perlu dinaikkan dari 20,70 persen menjadi 25 persen terhadap dalam negeri. Ini kepentingan Jatim bukan menyelesaikan persoalan Indonesia,” kelakar pria murah senyum ini. (punden)