Pulau Lombok, Dulu dan Sekarang Dalam Pandangan KH Luthfi Bashori

oleh -126 views

Sekitar tahun 1992, saya sempat safari ke Pulau Lombok untuk memenuhi ajakan dan undangan seorang kawan.

Akhi Nabil bin Hasan Batsaqili, begitulah namanya. Keluarga Akhi Nabil ini adalah pengusaha Rumah Makan Istimewa yang cukup terkenal di Lombok, tepatnya di Jalan Pejanggik Mataram.

Saat itu, saya sempat pula berkeliling mulai Lombok Barat, Lombok Tengah hingga Lombok Timur, kurang lebih 10 hari saya menempuh perjalanan kala itu.

Dari pengalaman safari itulah saya dapat memahami, betapa religiusnya perilaku masyarakat Lombok di kala itu.

Kemudian kurang lebih selang 5 tahun berikutnya, saya bersama keluarga, sempat masuk lagi ke pulau Lombok untuk transit, karena sedang menempuh perjalanan menuju ke pulau Sumbawa dengan naik mobil pribadi.

Saya juga sempat bermalam di salah satu hotel di Mataram, dan lagi-lagi bertemu dengan Akhi Nabil Batsaqili di lobi hotel.

Saya masih ingat saat itu, bahwa perkembangan kota Mataram sudah jauh lebih maju dan ramai daripada lima tahun sebelumnya. Namun tetap saja suasana religius masih sangat kental terlihat pada perilaku masyarakatnya.

Pernah saya bertemu dengan seorang sopir mobil angkutan Bison di Lombok Timur yang tiba-tiba menyapa saya dengan menggunakan bahasa Arab.

Rupanya saat melihat tatacara saya berpakaian, ia yakin kalau saya bisa berkomunikasi dengan Bahasa Arab.

Dalam perbincangan tersebut, ternyata ia mengaku pernah kerja di Arab Saudi. Demikianlah kurang lebih kondisi masyarakat Lombok pada saat itu.

Namun suatu hari, saya sempat terkejut tatkala mendengar dari berita media, bahwa pada sekitar tahun 2013, ternyata pemerintah NTB (Lombok) telah mengembangkan dunia pariwisata dengan sangat pesat. Data validnya dapat dilihat lewat google dan youtube.

Yang paling mengejutkan dan menyedihkan hati saya adalah, dengan dibukanya pariwisata Pantai Gili Trawangan, maka pengelola pun menyediakan tempat berjemur bagi para turis bule dari Eropa.

Tentu saja sebagaimana umumnya, para bule itu jika berjemur di pantai terbuka, mereka hanya menggunakan pakaian yang sangat minim, atau nyaris telanjang.

Turis laki-laki dan turis wanitanya bercampurbaur menjadi satu, hingga tidak ubahnya seperti para turis yang ada di pantai Kute Bali atau lainnya.

Lombok yang dulunya saya kenal sebagai pulau religi, sudah menjadi pulau wisata bahkan para bule asing yang telanjang pun semakin ramai berdatangan ke pulau Lombok.

Jadi, tidak menutup kemungkinan Allah menjadi murka saat ada perubahan sikap moral masyarakat di tempat-tempat yang semula sangat religius dan ahi ibadah, tiba-tiba menjadi pusat kemaksiatan, walaupun tempat tersebut berada di salah satu sudut pulau Lombok.

Masalahnya, jika Allah murka terhadap kemaksiatan yang dilakukan oleh satu kelompok yang berada di suatu tempat pula, lantas Allah menurunkan peringatan bagi orang-orang yang ahli maksiat itu, maka orang-orang shaleh dan baik yang hidup di sekitarnya itu akan terkena dampak dan imbas dari musibah tersebut.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA pernah mengatakan:

مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ

Tidaklah musibah itu turun melainkan karena dosa dan tidaklah musibah tersebut hilang (berhenti) melainkan dengan bertaubat.”

Untuk saat ini, sudah semestinya umat Islam dari semua kalangan yang berada di Lombok, hendaklah mengadakan Taubat Nashuhah, dan berniat untuk kembali menjalani kehidupan religi seperti yang dijalani oleh para sesepuh terdahulu, serta berani menolak tempat-tempat ‘wisata maksiat’ yang ada di pulau Lombok, agar warga Lombok mendapatkan kembali karunia Allah yang melimpah seperti jaman dahulu kala.*